"Harusnya kamu nggak usah muncul sekarang. Ini sudah terlambat....." kata Noi sambil memandang Foto Rei, cinta pertamanya.
Mata Noi tampak sembab, wajahnya tampak kuyu akibat semalaman tidak tidur dan terus menangis.
"Rei....."
lagi-lagi Noi menangis.
***
3 minggu lalu
"Tok...Tok..." terdengar suara pintu diketuk, Noi yang saat itu sedang memasak, kemudian melangkah membukakan pintu. dan betapa tercengangnya begitu melihat siapa yang ada di depan pintu.
"Rei..."
Noi membuka matanya lebar-lebar. Dia ingin memastikan bahwa yang dilihatnya adalah Rei. Rei, cinta pertamanya. Cinta pertama yang berjanji padanya untuk kembali padanya setelah delapan tahun mereka berpisah. Cinta pertama Noi yang justru menghilang setelah seminggu mereka putus, cinta pertama Noi yang hilang setelah Noi mempercayainya dengan setulus hati, cinta pertama Noi yang, membuat Noi merasakan apa artinya cinta itu.
"Hai Noi..." sapa Rei, sambil tersenyum.
Wajah Rei tampak sedikit pucat, namun tatapannya yang teduh tidak berubah dari dulu. Noi menggenggam tangannya kuat-kuat. Emosinya campur aduk. Ingin rasanya saat ini Noi memaki-maki bahkan membunuh Rei karena Rei tidak menepati janjinya. Namun semua itu sirna. seketika dan berganti dengan rasa rindu yang luarbiasa.
"Rei...."
Sontak Noi memeluk Rei, kemudian menangis di pelukkannya, Rei mengusap-usap punggung Noi.
"Rei, selama ini kamu kemana aja? kenapa kamu nggak menepati janji kamu. Kenapa kamu ninggalin aku?" ucap Noi lirih.
"Maafin aku Noi. Aku nggak bermaksud buat ninggalin kamu. Hanya saja...." tiba-tiba muka Rei berubah jadi sedih
Noi melepaskan pelukannya, "Hanya saja apa Rei?"
"aku saat itu ada urusan. Yang benar-benarr nggak bisa aku tinggalin."
"urusan apa?" tanya Noi penasaran.
Rei tiba-tiba tersenyum sinis, "itu bukan urusanmu Noi."
Tiba-tiba Noi merasa ada sesuatu yang salah sama diri Rei. Sosok Rei yang ada di hadapannya kini berbeda dengan Rei yang Noi kenal dulu, Rei yang ramah, pencemburu, sayang padanya, cerewet. Kini berubah menjadi Rei yang dingin, sinis, dan raut mukanya tidak bisa ditebak.
"Rei, kamu kenapa? Kamu berubah..."
Rei tertawa jengah, ia kemudian menatap Noi tajam. "Apa kamu masih menungguku? Sampai selama ini?"
tanyanya dengan kedua alis terangkat
Noi tidak menjawab, terdengar gemretak gigi, tangannyapun dikepalkannya kuat-kuat.
"Jadi benar dugaanku. Ternyata kamu masih menungguku selama ini."
"Hmmphh....jadi kenapa kamu baru datang sekarang Rei?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar